Lantaran tidak jujur soal uang yang tak jelas peruntukannya, membuat ibu dua anak ini menyeret sang suami ke Pengadilan Agama.
Di sana, Titi melayangkan gugatan cerai untuk Tata. Alasan yang Titi tulis dalam formulir, tak pernah dinafkahi suami dan tidak dihargai sebagai istri.
“Capek Mas punya suami enggak jujur soal keuangan. Punya suami debt collector, tapi biaya hidup malah tekor,” keluh Titi
Titi kesal dengan sikap Tata yang mengatur keuangan sendiri untuk membiayai rumah tangga selama enam tahun. Buat keperluan sehari-hari, permintaan Titi hanya ditakar suami. Sehari buat belanja hanya dijatah Rp 20 ribu, kadang disuruh mengutang ke warung.
Giliran waktunya makan, banyak permintaan yang aneh-aneh, maunya menu yang enak-enak. Ya salam.
“Gila kan, uang gaji dia kemana? Enggak pernah dikasih ke saya tuh, gaji pertama doang, selanjutnya dadah,” ujarnya ketus.
Namun, giliran di ranjang, pria menikahi Titi sejak 2009 itu, selalu ingin terpenuhi hasrat birahinya. Tata selalu marah kalau Titi tak mampu memberikan servis memuaskan sampai Tata dirasa lelah. Tata terbilang tipikal lelaki hiperseks.
Dalam sehari, Titi bisa mandi lebih dari lima kali akibat Tata yang suka terus-terusan minta dilayani tak mengenal waktu dan tak merasa lelah.
“Saya bukannya enggak mau memberi kepuasan, tapi sudah ilfil duluan. Boro-boro semangat, lebih baik diam, enggak banyak gerakan. Makanya, kita sering cekcok gara-gara bahas gituan. Lucu kan?” ucapnya.
Kalau pas malam pertama, begitu juga enggak Mbak? “Ya enggak lah, saya servis abis sampai molor. Waktu itu kan belum tahu kelakuan dia sebenarnya,” umbarnya.
Kalau tidak sampai terpuaskan saat berhubungan suami istri, Tata suka uring-uringan dan bersikap menyebalkan. Amarah demi amarah kerap dia lontarkan sampai berdampak pada pengurangan jatah belanja.






